Memahami AS Melalui Bahasanya

Berita / Opini
Memahami AS Melalui Bahasanya
Oleh Afrianto Daud
Padang Ekpres, Senin, 06-Juni-2005, 15:52:44
10 klik


”Bahasa menunjukkan bangsa”, demikian ungkapan populer yang telah kita kenal semenjak kita mempelajari bahasa Indonesia di bangku sekolah dasar dulu. Ungkapan itu berarti bahwa bahasa, sebagai salah satu pilar terpenting dalam struktur budaya sebuah masyarakat, akan merefleksikan karakter masyarakat si pengucap bahasa tersebut. Dengan demikian, bahasa bisa dikatakan sebagai identitas yang melekat erat pada komunitas penutur (asli) bahasa itu.

Amerika Serikat adalah salah satu negara penutur asli (native speaker) Bahasa Inggris, disamping negara-negara lain, seperti Inggris dan Australia. Maka, kalau kita termasuk salah seorang yang ”gemas” dengan beberapa kebijakan politik kontroversial negara adidaya Amerika Serikat, kita bisa mencoba memahami kebijakan negara yang dijuluki superpower itu dengan memahami keunikan Bahasa Inggris.

Yang paling mudah diperhatikan adalah bagaimana penulisan subjek I (saya) dalam bahasa Inggris. Dimanapun posisinya, baik di awal, di tengah, bahkan di akhir kalimat I selalu ditulis dengan huruf kapital (huruf besar). Penulisan I ini tentu berbeda dengan subjek yang lain (you, we, they, he, she, it), yang semuanya mengikuti aturan penulisan standar yang lazim digunakan huruf latin.

Bagi saya, hal ini (penulisan I yang selalu dengan huruf kapital) merefleksikan ”kepercayaan diri” yang sangat tinggi yang dimiliki bangsa Amerika. Kepercayaan diri yang kadang menjelma menjadi kesombongan dan keangkuhan. Maka dalam konteks ini, wajar saja ketika Amerika ”dihujat” masyarakat dunia dalam berbagai aksi demonstrasi yang menentang serangan Amerika terhadap Afghanistan dan Irak, namun Amerika dibawah komando George W Bush tetap saja dengan ”percaya diri” memborbardir dan meluluhlantakkan dua negara yang secara militer sebenarnya sangat tidak seimbang dengan negara adidaya itu.

Bahkan, ketika dunia menyadari bahwa alasan awal penyerangan Amerika ke Irak yang mengatakan bahwa Saddam Hussen menyimpan senjata pemusnah massal (baca: bom nuklir) sama sekali tidak terbukti, pemerintah Amerika bersama sekutunya (termasuk pemerintah Inggris di bahwah komando Tony Blair dan Australia) sama sekali tidak mau mengakui kekeliruan itu. Bahkan sampai detik ini, Amerika dan sekutunya tetap dengan kepercayaan diri tinggi memperkuat cengkramannya di bumi yang dijuluki ”kota seribu satu malam” itu. Rasanya mustahil bagi kita mendengar Amerika mau mengakui kesalahannya itu, apalagi meminta ma’af kepada masyarakat dunia.

Kembali ke bahasa Inggris. Bahasa lnggris adalah bahasa dengan aturan yang tingkat inkonsitenesinya paling tinggi dibanding bahasa lain di dunia. Sebagai contoh, ketika untuk menyebut dia, bahasa Inggris memakai istilah yang berbeda, yaitu he (dia laki-laki) dan she (dia perempuan), namun untuk subjek yang lain aturan ini tidak lagi berlaku. Tidak ada beda istilah untuk perempuan atau laki-laki. Ini tentu saja sangat beda dengan aturan bahasa lain, bahasa Arab misalnya, yang sangat konsisten dengan aturan perbedaan sebutan untuk laki-laki (muzakkar) dan perempuan (muannas).

Inkonsistensi ini juga akan sangat banyak kita temui kalau kita belajar tenses bahasa Inggris. Ada begitu banyak pengecualian dalam aturan itu. Misalnya, untuk menyatakan kalimat dengan kegiatan pada masa lalu (past tense) ada aturan bahwa kita harus menggunakan kata kerja bentuk kedua yang biasanya berakhiran dengan -ed, misal I wanted to see you in the office yesterday. Namun, ternyata ada begitu banyak kata kerja yang tidak mengikuti aturan ini, dimana kata kerjanya justru berubah semaunya (irregular verbs), misal The man drove the car very fast.

Dalam konteks inkonsistensi aturan ini, sebagian orang ada yang bilang bahwa kata dan huruf bahasa Inggris paling ”munafik” sedunia. Apa maksudnya? Karena yang ditulis dan diucapkan sangat jauh berbeda. Misalnya, love (bacanya lavb- akan lebih jelas pakai fonetik simbol) atau unique (bacanya yuniq), I dibaca ai, dan seterusnya. Kemudian, hampir semua huruf tidak punya konsistensi. Misal, kenapa child dibaca chaild, sementara children tidak dibaca chaildren?

Bagi saya, inkonsistensi bahasa Inggris seperti dijelaskan di atas mempertegas dan memperjelas inkonsistensi sikap Amerika terhadap banyak hal menyangkut kepentingan masyarakat internasional. Sudah lama sebahagian masyarakat dunia komplain dengan standar ganda Amerika dalam menyikapi berbagai kasus di dunia. Amerika dianggap tidak konsisten dengan aturan dan nilai-nilai yang mereka kampanyekan sendiri, seperti isu demokratisasi, transparansi, dan penghormatan terhadap hak azasi manusia.

Terkait dengan demokratisasi, misalnya, Amerika dengan bangga memproklamirkan diri sebagai negara paling demokratis di dunia. Bahkan, Amerika menganggap merekalah model ideal pelaksanaan demokrasi di jagad ini. Amerika sangat percaya bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan ideal yang harus dianut oleh setiap bangsa, maka oleh sebab itu Amerika akan selalu berada pada posisi terdepan dalam setiap proses demokratisasi di dunia. Salah satu alasan utama Amerika menyerang Irak tak bisa dilepaskan dari keinginan Amerika untuk menegakkan demokrasi ”ala Amerika” di negeri ”seribu satu malam” itu.

Namun sejarah mencatat, Amerika ternyata tidak konsisten dengan apa yang selama ini dia dengung-dengungkan. Amerika diyakini dalang dibalik ”kudeta demokrasi” yang dilakukan rejim otoriter Aljazair untuk tidak mengakui kemenagan Partai Islam FIS pada pemilu yang sebenarnya dilakukan sangat demokratis di Aljazair pada awal tahun sembilan puluhan. Pendongkelan Erbakan di Turki oleh militer beberapa tahun kemudian juga diyakini di beking kuat oleh barat (baca: Amerika), sekalipun dunia tahu bahwa Erbakan menjadi perdana mentri setelah Partai Islam “Refah” yang dipimpinnya menang mutlak secara demokratis di Turki. Ini semua dilakukan Amerika hanya kerena demokrasi menghasilkan sesuatu yang bisa mengancam eksistensinya sebagai negara adidaya.

Trus, kalau begitu kapan Amerika betul-betul menjadi pejuang demokrasi? Jawabannya sangat mudah, yaitu ketika proses demokrasi menghasilkan sesuatu yang kompatibel dengan kepentingan Amerika. Inilah di antara bukti bahwa Amerika memang ”plin plan”, alias ”muna” seperti hanya bahasanya.

Belum lagi kalau kita bicara bagaimana gaya Amerika memperjuangkan hak azasi manusia. Sangat jelas bahwa Amerika juga menerapkan double standard. Ketika beberapa relawan asing terbunuh dalam kekacauan di Timor Timur pasca jajak pendapat yang membuat Timtim lepas dari pangkuan ibu pertiwi, Amerika langsung berang. Tak tanggung-tanggung, Amerika menuduh Indonesia telah melakukan kejahatan kemanusiaan karena tidak melindungi hak azasi manusia. Namun pada saat yang sama, dunia tahu bahwa Amerika seperti membiarkan tentara zionis Israil membunuh ribuan rakyat Palestina sampai detik ini. Bahkan, beberapa kali Amerika menggunakan hak vetonya untuk membatalkan resolusi PBB untuk mengecam kebrutalan tentara Israil yang jelas jelas telah melakukakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) dan mengangkangi hak asazi manusia.

Kenapa Amerika bungkam? Lagi-lagi jawabannya adalah masalah kepentingan. Sepertinya penegakan hak asazi manusia tidak berlaku bagi Amerika kalau tidak berhubungan langsung dengan kepentingannya. Atau jangan jangan Amerika, karena keangkuhannya, beranggapan bahwa manusia lain di luar diri mereka bukanlah manusia yang sebenarnya, makanya tak pantas dibela, apalagi dihormati. Trus, kalau begitu apakah kesombongan dan inkonsistensi adalah karakter genetik yang telah sangat melekat dalam denyut nadi kehidupan bangsa Amerika seperti yang terefleksi dalam Bahasa Inggris- akan berlaku sepanjang hayat? Entahlah! Hanya Tuhan saja yang tahu.

*Penulis adalah dosen mata kuliah Cross Cultural Understanding STAIN Prof M Yunus Batusangkar

I teach (and learn) for the same reason I breath. I am a teacher and a constant learner at the same time. --- Jatuh cinta dengan kegiatan belajar dan mengajar, karena dua aktifitas inilah yang menjadikan peradaban terus tumbuh dan berkembang ^_^ I have been teaching in various institutions in Indonesia, ranging from primary school to university level. I have just completed my Ph.D in Education at Monash University Australia. My research interest is on (English) teacher training and education, English Language Teaching, and educational policy in Indonesian context. I am available to share my knowledge with all interested teachers worldwide. Feel free to contact me through my email as seen in my blog :-). Many thanks!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »