2014, Anak Muda yang Memimpin Negeri

Oleh : Afrianto Daud

Mahasiswa Program Doktoral di Monash University, Australia

Padang Ekspres • Jumat, 28/10/2011 11:28 WIB


Pemilihan Umum 2014 diprediksi akan berlangsung sengit dan menarik. Berbeda dengan pemilihan umum sebelumnya, dimana ada banyak partai politik memiliki tokoh-tokoh senior yang sudah memiliki nama (seperti Yusuf Kalla dari Golkar, SBY dari Demokrat, Amin Rais dari PAN, Megawati dari PDIP) pada tahun 2014 besar kemungkinan tokoh-tokoh besar ini tidak akan lagi bisa berlaga. Selain terganjal pembatasan oleh undang-undang, seperti yang dialami oleh SBY karena telah menjadi presiden selama dua kali berturut-turut, mereka juga pada saat yang sama juga terbatasi oleh waktu dan usia mereka.


Pada tahun 2014, Megawati akan memasuki usia 64 tahun. Sementara Yusuf Kalla, 72 tahun; Amin Rais , 70 tahun; dan Prabowo Subianto akan berusia 63 tahun. Beberapa ketua umum partai politik sekarangpun sudah tak begitu muda lagi pada 2014. Walaupun tidak ada garis pembatas yang jelas untuk menyebut ‘tua’ dan ‘muda’, namun para tokoh dengan usia di atas enam puluh tahun di atas tentu sudah termasuk kategori sangat senior, untuk tidak menyebut ‘sangat tua’, dan karenanya sangat pantas mereka dan para pendukungnya legowo untuk memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk maju bertarung pada pemilihan presiden.


Keadaan seperti ini sesungguhnya sangat disadari oleh banyak partai politik. Karenanya hampir semua partai politik secara sadar telah mempersiapkan para kader mudanya sedini mungkin. Ini diyakini karena partai politik tersebut menyadari bahwa hanya partai dengan tokoh mudalah yang bisa memperoleh poin pada pemilihan umum berikutnya.


Nama Puan Maharanie, misalnya, adalah tokoh muda yang sudah dipersiapkan PDIP untuk melanjutkan estafeta tradisi kepemimpinan darah Bung Karno di PDIP. Terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat, saya pikir, di antaranya juga disemangati oleh kesadaran partai ini untuk sejak awal melakukan proses penokohan kader-kader muda untuk estafeta kepemimpinan SBY. Hal yang sama juga terlihat di Partai Golkar.

Terpilihnya Idrus Marham yang saat itu masih berusia 46 tahun sebagai Sekjen pada Munas VIII Partai Partai Golkar di Pekanbaru juga bisa dipahami bahwa adanya kesadaran partai ini untuk melakukan akselerasi ketokohan kader-kader muda mereka. Kecendrungan yang sama juga bisa terbaca di partai tengah lainnya, seperti di tubuh PAN, PPP, dan PKB.


Barangkali kasusnya agak sedikit berbeda dengan Partai Keadilan Sejahtera, karena sejak awal pendiriannya partai berbasis massa Islam ini telah didirikan dan dibangun oleh anak-anak muda. Mayoritas kepengurusannya adalah mereka yang masih berusia di bawah lima puluh tahun. Pertanyaannya adalah apakah partai ini telah memiliki tokoh muda yang layak dijual pada pemilihan presiden 2014 mendatang.


Sekali lagi partai politik yang memiliki tokoh muda yang kuatlah yang bisa memperoleh keuntungan dalam pemilu 2014 mendatang. Dengan demikian, dua tahun tersisa menjelang tahun 2014 adalah masa dimana semua partai politik dengan berbagai cara mesti melakukan kaderisasi, regenerasi, akselerasi, penokohan kader muda mereka, agar mereka bisa dikenal dan ‘laku dijual’ kepada calon pemilih di 2014. Dan di sinilah pertarungan itu menjadi sengit, karena kader-kader muda itu sama sama memulai dari ‘nol’, dan tidak ada diantara mereka yang akan dengan mudah memenangkan pertarungan hanya karena ketokohan dan nama besar mereka selama ini.


Tidak Cukup Hanya Muda Usia
Tantangan nasional bangsa kita ke depan, jelas akan semakin berat dan semakin kompleks. Baik tantangan dari dalam negeri, seperti ancaman seperatisme, terorisme, kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan di bidang pendidikan. Belum lagi ancaman dari luar, seperti efek negatif globalisasi, sistem pasar bebas, terorisme global, dan bahkan ancaman kedaulatan negeri berupa hilangnya beberapa teritorial negeri kita di wilayah tapal batas.


Dengan demikian, saat kita berbicara kepemimpinan nasional, tentu tidak cukup hanya mengandalkan usia muda saja. Tokoh muda yang kita inginkan tampil pada pemilihan presiden adalah tentu anak muda yang memiliki jiwa progresif , visioner, cakap, berintegritas, dan memiliki semengat juang tinggi dalam membangun negeri seperti yang telah dicontohkan oleh banyak tokoh muda kita dulu pada zaman sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan. Dengan karakter seperti ini diharapkan mereka bisa memimpin negeri ini untuk keluar dari beragam permasalahan yang melilitnya.


Kita menginginkan munculnya anak muda seperti Wahidin Soedirohoesodo yang mendirikan dan memimpin pergerakan Budi Utomo pada tahun 1908. Kita menginkan lahirnya anak muda visioner dan cinta negeri seperti Moehammad Yamin yang mendeklarasian Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Lebih dari itu, anak muda yang kita harapkan melanjutkan estafeta kepemimpinan nasional itu adalah anak muda yang bermental pejuang, dan berfikir ‘out of the box’ seperti yang dicontohkan Sukarni, BM Diah, dkk yang ‘memaksa’ Sukarno- Hatta, yang waktu itu juga masih muda, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI pada tahun 1945.


Siapa Dia?
Barangkali terlalu dini untuk bisa menebak siapa anak-anak muda yang pantas untuk menjadi pemimpin nasional setelah 2014 mendatang. Namun, beberapa nama tokoh muda kita yang sudah masuk dalam pentas politik nasional kita, seperti Puan Maharanie (PDIP), Idrus Marham (Golkar), Anas Urbaningrum (Demokrat), Anis Matta (PKS), Muhammad Romahurmuziy (PPP) bolehlah kita cermati dan terus pelajari.

Tentu tidak hanya terbatas pada nama-nama ini. Ada banyak tokoh muda lainnya yang saya pikir pantas untuk dipertimbangkan, termasuk mereka yang saat ini tidak bergerak di partai politik, seperti Anis Baswedan (rektor Universitas Paramadina) dan Sandiago Uno (pengusaha muda yang sukses). Semoga mereka bisa melakukan akselerasi dalam banyak hal sehingga memiliki elektabilitas yang cukup ketika pemilu 2014 menjelang. Ketika semua persyaratan elektabilitas terpenuhi, bukan tidak mungkin Indonesia 2014 akan dipimpin oleh anak muda terbaik negeri ini. Selamat memperingati hari Sumpah Pemuda! (*)

I teach (and learn) for the same reason I breath. I am a teacher and a constant learner at the same time. --- Jatuh cinta dengan kegiatan belajar dan mengajar, karena dua aktifitas inilah yang menjadikan peradaban terus tumbuh dan berkembang ^_^ I have been teaching in various institutions in Indonesia, ranging from primary school to university level. I have just completed my Ph.D in Education at Monash University Australia. My research interest is on (English) teacher training and education, English Language Teaching, and educational policy in Indonesian context. I am available to share my knowledge with all interested teachers worldwide. Feel free to contact me through my email as seen in my blog :-). Many thanks!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »