Showing posts with label KEAGAMAAN. Show all posts
Showing posts with label KEAGAMAAN. Show all posts

Kematian dan Kepulangan

Oleh: Afrianto Daud

Dari beberapa istilah yang digunakan oleh masyarakat kita dalam merujuk pada kematian, seperti 'meninggal', 'sampai ajal', 'tewas, 'wafat', atau 'mati' itu sendiri, saya paling suka dengan istilah 'berpulang'.
Ya, pulang, atau berpulang!



Istilah ini langsung menukik pada substansi kematian itu sendiri dalam hubungannya dengan kehidupan di dunia. Bahwa kematian bukanlah akhir perjalanan kehidupan. Dia hanyalah jembatan yang mengantarkan seseorang untuk pulang ke rumahnya, ke kampung halamannya.
Istilah ini sekaligus mengingatkan kita tentang substansi kehidupan di dunia yang sesungguhnya tak lebih dari 'negeri rantau', bukan tempat menetap selamanya. Karenanya, meminjam istilah Ibnu Al Jauzi, seorang perantau seyogianya tidak pantas menjadikan dunia itu sebagai rumah yang diimpikan. Dia hanyalah jembatan.
Setiap momen kepulangan pasti dipenuhi suasana emosional. Baik bagi mereka yang akan pergi, maupun yang ditinggalkan. Bagi seorang perantau, momen kepulangan adalah momen yang ditunggu. Kepulangan adalah momen yang dirindu. Tentu bukan pulang dengan tangan hampa. Tetapi, pulang sebagai 'perantau sukses'.
Bagi yang ditinggalkan, melepas mereka yang pulang (for good) bisa jadi akan diwarnai pelukan erat, dan isak tangis. Normal, sejak dahulu isak tangis dan sedu sedan hampir selalu menjadi bukti paling otentik yang merefleksikan cinta dan kasih sayang saat berpisah.
Namun jika kembali kepada filosopi 'berpulang' itu, maka seharusnya isak tangis itu tak boleh lama. Toh, semua kita akan berpulang, bukan?
Jika mereka yang tahu dimana rumahnya akan merindu untuk pulang, bisa jadi ada mereka yang tak mau pulang atau tak tahu jalan untuk pulang. Jika sampai pada posisi seperti ini, maka sebagai perantau kita perlu berhenti sejenak; merenungi jalan hidup tentang dimana dan mau kemana.
Jangan sampai, kita termasuk mereka yang tak mau 'pulang'. Mau atau tidak, kita pasti akan pulang, kawan.
Kita tak mau? Tapi akan ada waktunya kita akan 'dipaksa pulang'. Inilah kepulangan yang menyedihkan.
THE END!





Asmara Subuh, Bukan Sembarangan Asmara

Asmara Subuh, Bukan Sembarangan Asmara

Tulisan ini bukan mengupas pengalaman asmaraku di subuh hari,  tetapi akan membahas salah satu kebiasaan anak muda di beberapa daerah, termasuk di Sumatera Barat ketika Ramadhan datang. Kebiasaan itu disebut dengan 'asmara subuh,' yaitu ketika ratusan anak bujang dan gadis (biasanya pada akhir pekan) keluar beramai-ramai di subuh hari dari masjid atau surau setelah menjalankan ibadah sholat subuh dan atau setelah mengaji menuju tempat-tempat umum, seperti taman, pinggir sungai, atau tepian pantai. Sebagian mereka berjalan kaki, dan sebagian lagi bersepeda motor.

Di tempat-tempat itulah para muda mudi ini dengan sarung atau mukena masih terbalut di badan terlihat bergerombol, bermain, berkejaran, tertawa, dan tak jarang juga memadu kasih. Ya, ritual mingguan ini seringkali dijadikan kesempatan bagi anak-anak 'jolong gadang' itu sebagai tempat untuk bertemu dengan kekasih mereka atau sebagai ajang 'pencarian' bagi mereka yang belum punya. Tak heran, jika anda sesekali menyaksikan suasana di lokasi ngumpulnya anak-anak muda ini, beberapa pasang anak adam itu terlihat mesra, tertawa cekikan, berpegangan, merajut asmara di pagi hari. Mungkin karena inilah, kebiasaan ini disebut dengan asmara subuh.


Saya tidak tahu bagaimana asal muasal tradisi ini ada dan berkembang di beberapa tempat. Namun keberadaan kegiatan seperti asmara subuh ini tentu terasa menjadi anomali dan atau kontraproduktif dengan suasana subuh dan Ramadhan itu sendiri. Penyematan kata 'asmara' pada kata 'subuh' dalam konteks ini adalah satu anomali, karena dua kata ini jelas bertolak belakang dari sisi esensi dan makna. Subuh yang syahdu dan penuh barakoh itu kemudian 'dikawinkan' dengan kata 'asmara' muda mudi yang tentu tidak kompatibel dengan esensi kesyahduan waktu subuh.

Anomali lebih jauh adalah ketika ini menjadi kebiasaan di waktu Ramadhan, yang juga secara esensi dipahami sebagai bulan suci, bulan dimana kaum muslimin diajarkan untuk menahan diri, menjaga diri dari segala sesuatu yang bisa mengotori jiwa. Hubungan asmara muda mudi di subuh itu sangat jelas bertentang dengan esensi Ramadhan itu sendiri.

Oleh karena itu, wajar jika beberapa pemerintah daerah resah dan bahkan harus menunurunkan satpol PP untuk 'mengamankan' suasana asmara subuh anak  muda ini. Kegiatan ini saya pikir pantas untuk digantikan dengan kegiatan lain yang lebih mendidik. Stop Asmara Subuh, karena dia bukan sembarang asmara!

--

Selamat berpuasa!

*gambar diambil dari sini dan sini

Optimisme Seorang Muslim


Dalam penggalan sejarah Rasulullah SAW kita kenal satu masa yang disebut dengan “amul huzni” (tahun berduka cita). Yaitu ketika dua orang yang sangat beliau cintai sekaligus sangat berjasa dalam perjalanan kehidupan (baca: dakwah) beliau meninggalkan beliau untuk selamanya dalam waktu yang relatif bersamaan. Dua orang itu adalah, istri beliau tercinta, Siti Khadijah ra, dan paman beliau Abu Thalib.

Sebagi manusia normal, ada gurat duka di wajah Rasulullah saw, ketika ditinggal pergi istri tercinta, Siti Khadijjah ra. Sungguh, penggalan indah dan penuh makna dari setiap detik kehidupan beliau dengan Siti Kahdijah ra tak kan pernah bisa tergantikan oleh istri-istri beliau yang lain.

Seperti kita tahu, Khadijah adalah istri yang begitu beliau sayangi yang selama ini telah menopang perjuangan kehidupan beliau, baik secara psikologis maupun ekonomis. Tak hanya itu, Khadijah juga tercatat sebagai orang pertama yang mengimani dakwah yang dibawa Rasulullah SAW. Tanpa ragu Khadijah membenarkan misi kenabian yang beliau emban sebelum ada orang lain yang meyakininya.

Betapa besarnya cinta beliau kepada Khadijah bisa kita rasakan ketika beliau pernah mengungkapkan, “ Sungguh, Khadijah adalah anugrah Allah terbesar kepadaku. Dia mengimani ku saat orang lain mengingkariku, dan dia melindungiku saat orang lain memusuhiku”.

Tak lama waktu berselang, goresan kesedihan itu beliau rasakan semakin dalam, tatkala paman yang beliau hormati, Abu Thalib, juga kembali pada Allah SWT untuk selamanya. Meskipun sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tak pernah mau bersyahadat untuk memeluk Islam, dari sejarah kita tahu bahwa beliau tidak hanya telah berjasa dalam mengasuh beliau semenjak ibunya Aminah meninggal, tapi juga telah menjadi tameng hidup kelancaran dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW dari rongrongan kaum kafir Qurais.

Abu Thalib pergi di saat kuncup dakwah yang beliau semai belum begitu mekar. Paman yang beliau hormati itu meninggal saat beliau masih sangat membutuhkan sosok yang begitu tegar dan berani berdiri di shaf depan melindungi diri beliau dari kejaran kafir Quraisy yang sekaligus juga bisa diartikan untuk memagari proses dakwah yang sedang beliau lakukan.

Demi mengobati luka duka itu, beliau memutuskan untuk hijrah ke Tha'if. Beliau pergi dengan membawa segumpal harap, penduduk Tha'if akan menerima beliau dengan hangat dan terbuka. Namun sesampai di Tha'if, harapan tersebut hilang bagai embun yang disapu sinar mentari. Bukan sapa hangat yang beliau terima, tapi cemooh dan lemparan batu yang didapat. Dalam sejarah disebutkan bahwa lemparan batu itu sampai membuat satu gigi Rasulullah SAW patah. Masyarakat Tha'if mengusir Rasulullah keluar dari kota. Kejadian ini tentu menambah goresan luka itu semakin dalam.

Menerima perlakuan kasar, dalam kesedihan yang mendalam, marahkah beliau? Putus asakah beliau? Apakah beliau kemudian merencanakan aksi balas dendam? TIDAK, dengan sabar beliau malah mendoakan : "Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’alamuun". (Ya Allah, berilah kaumku hidayah, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui).

Kemudian sejarah menceritakan sepuluh tahun kemudian, dengan berbondong-bondong masarakat Tha'if masuk Islam. Bahkan pada zaman khalifah Abu Bakar, disaat beberapa golongan tidak mau membayar zakat, masyarakat Thai'if lah yang bersegera menunaikan pembayaran zakat.

Rasulullah yang mulia, melalui sepenggal sirahnya, mengajarkan kepada kita tentang satu mentalitas atau karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim yang beriman, yaitu satu nilai yang kita sebut dengan optimisme. Secara sederhana optimisme bisa kita pahami sebagai sikap mental yang selalu penuh harap dan keyakinan tentang masa depan yang lebih baik.

Potret optimisme Rasullulah SAW ketika menghadapi penolakan masyarakat Tha'if, tergambar jelas dalam untaian doa yang beliau lantunkan. Rasulullah mengajarkan, sesulit dan seberat apapun kondisi yang kita hadapi, harus tetap ada optimisme, karena optimisme bagi seorang muslim merupakan manifestasi keyakinan akan keberadaan dan pertolongan Allah SWT.

Optimisme seorang muslim bukanlah optimisme yang didirikan diatas tanah kosong, tapi optimisme tersebut didirikan di atas kekokohan iman kepada Allah SWT. Dengan kata lain, sikap mental yang selalu optimis dengan masa depan yang lebih itu adalah konsekwensi logis dari keimanan dan keistqamahan kita dalam mengamalkan ajaran dinul Islam ini.

Sebagaimana Allah berfirman, “ Sesungguhnyaorang-orang yang berkata bahwa tuhan kami adalah Allah dan mereka istqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan kepadamu”. (Fusshilat:30).

Kalau kita melihat berbagai kenyataan yang ada di depan mata kita hari ini, maka kita akan menemukan bahwa ada begitu banyak masalah yang bisa saja membuat kita begitu tertekan. Beragam permasalahan hidup itu bisa kita rasakan baik dalam lingkar permasalahan kita sebagai individu, sebagai bagian dari masyarakat, sebagai bagian dari anak bangsa, maupun permaslahan kita sebagai satu ummah.

Di level individu, sangat mungkin ada diantara kita yang senantiasa bergulat dengan permasalahan pribadinya yang begitu rumit setiap harinya. Masalah itu bisa terkait dengan masalah keluarga, hubungan dengan anak dan istri yang tidak harmonis, sakit yang tak kunjung sehat, masalah ekonomi, susah sekali mencari pekerjaan, masalah studi yang tak juga selesai, atau masalah doa dan impian yang tak kunjung terwujud.

Semua problema itu sangat mungkin menjebak kita untuk berkeluh kesah dan bahkan mungkin sampai pada situasi dimana kita merasa hopeless, putus asa, dan frustasi. Bahkan bisa sampai pada titik ekstrim, yaitu ketika kita mulai mempertanyakan pertolongan dan keadilan Allah. Nauzubillahi min zalik.

Pada tataran masyarakat, saat ini kita juga harus berhadapan dengan seabrek problema sosial yang semakin hari justru makin mengkhawatirkan. Semakin meningkatnya tindak kejahatan dalam berbagai bentuk dalam masyarakat kita, misalnya, kadang membuat kita cendrung “kehilangan akal” untuk menghadapinya. Atau ketika aktifitas dakwah cukup marak hadir di tengah masyarakat kita hari ini, pada saat yang sama fenomena maksiatpun juga merajalela dalam berbagai bentuk dan modus operandi yang “lebih canggih”.

Apalagi kalau kita melihat diri kita dalam lingkaran yang lebih luas, sebagai bagian dari anak bangsa yang bernama Indonesia. Sungguh, cerita keseharian kita sebagai bangsa dipenuhi oleh cerita-cerita sedih dan paradoks. Sebuah realitas yang membuat potret negeri dengan komunitas muslim terbesar di dunia ini semakin buram.

Kisah kita sebagai bangsa sampai hari ini masih berkisar tentang tingginya angka kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, buruknya pelayanan birokrasi, rusaknya mentalitas sebagian anak bangsa, dan (masih) maraknya prilaku korupsi. Tak sampai di sini, musibah dalam bentuk bencana alampun datang silih berganti.

Belum sembuh luka saudara-saudara kita di Aceh pasca Tsunami, berturut-turut belahan negeri Indonesia yang lain seperti Jogya, Pengandaran, dan Sidoardjo juga harus merasakan pedihnya luka ini. Maka, sepertinya lengkap sudah “derita” kita sebagai anak bangsa yang bernama Indonesia.Sampai di sini, pertanyaan kita adalah Kapan semua cerita sedih ini akan berakhir, atau masih adakah harapan tentang masa depan yang lebih baik itu?

Kalau kita telusuri kisah orang-orang yang tersesat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, maka kita akan temukan salah satu peyebabanya adalah ketika yang bersangkutan telah kehilangan harapan tentang jalan keluar dari permasalahan yang dia hadapi. Orang yang kehilangan harapan, sesungguhnya yang bersangkutan telah kehilangan hidup itu sendiri. Karena harapan adalah sumber energi kehidupan. Harapan berfungsi layaknya bensin sebagai sumber energi yang bisa membuat mobil bisa berjalan. Mobil secantik apapun tak akan berarti apa-apa tanpa bensin.

Maka menjawab pertanyaan diatas, sebagai muslim yang beriman tentu seharusnya jawaban kita adalah bahwa kita tidak boleh berhenti berharap. Kita tidak boleh berputus asa dengan rahmat Allah. Kita harus yakin dengan janji Allah SWT yang menegaskan bahwa Dia akan memberikan pertolongan (40:51), penjagaan (10:98), perlindungan, 2:257), jalan keluar dari segenap permaslahan (65:2) dan juga rezki (35:3) kepada hamba-Nya yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Dengan demikian kalau kita masih menemukan diri kita, baik dalam skala personal maupun sebagai bagian dari satu ummah yang besar, masih berkutat dengan berbagai permasalahan yang pelik, maka jika kita kembali pada firman Allah dalam surat Fusshilat ayat 30 di atas, yang harus kita interospeksi adalah sampai dimana kadar keistiqmahan kita sebagai seorang yang telah meyakini Allah sebagai Rabb kita. Sebagi seorang yang telah memilih Islam sebagai way of life kita.

Istiqamah yang dimaksud di sini tentu saja dia tidak hanya berarti mengerjakan ibadah mahdah (seperti shalat, puasa, dll) secara konsisten, namun dia harus dipahami dalam konteks yang lebih luas bagaimana kita sebagai muslim konsisten menjalankan semua aspek dinnul Islam yang kaffah itu dalam semua aspek kehidupan kita. Istiqamah di sini juga berarti bagaimana kita secara terus menerus mengembalikan semua permasalahan kita tersebut kepada (tuntunan) Allah dan Rasulnya secara proporsional.

Sungguh, tulisan yang pendek tak cukup untuk mengurai secara detail beragam permasalahan yang kita hadapi. Poin penting yang saya ingin tegaskan adalah bahwa kalau kita konsisten mempraktekkan ajaran Islam ini secara kaffah dalam setiap gerak kehidupan kita, maka InsyaAllah memang kita tidak perlu bersedih dengan setiap problema kehidupan ini. Kita tak kan pernah kehilangan harapan tentang masa depan yang lebih baik itu. Kita akan selalu optimis dengan segenap pertolongan Allah, karena memang Allah tak kan pernah mengingkari janji-Nya. Marilah belajar kepada tetes-tetes air yang mampu melubangi batu karang yang keras, hanya kerena air yang sesungguhnya lembut itu menjalankan sunnatullah, secara konsisten, tanpa henti menetes dan menetes. Wallahu a’lam bissawab.

* Afrianto Daud adalah presiden Monash Indonesian Islamic Society (MIIS) Monash University Australia.

Artikel ini diterbitkan harian Padang Ekpress, 4 September 2006
Mengimpikan Nagari Qurani

Mengimpikan Nagari Qurani

News / Nagari
Mengimpikan Nagari Qur’ani
Oleh: Afrianto Daud
Padang Ekspres, Minggu, 16-Oktober-2005, 06:36:24
128 clicks


Adagium yang sangat populer melekat dengan budaya Minangkabau adalah adat basandi syara , syara' basandi kitabullah (ABS-SBK). Karena begitu populernya, hampir tak ada orang Minang yang tidak mengenal ungkapan ini. Bahkan, ungkapan filosofis ini telah banyak dibicarakan dalam berbagai forum diskusi, seminar, dan lokakarya tentang adat Minangkabau.

Namun kalau kita mau jujur, pembicaraan tentang ABS-SBK selama ini barulah sebatas wacana retorik, prakteknya belum terlihat secara nyata dalam pe.ngalaman hidup masyarakat Minang sehari-hari. Secara historis ABS-SBK lahir dari hasil kompromi (untuk tidak menyebut kesepakatan) kaum adat dengan para ulama. Seperti diketahui ketika Islam masuk ke ranah Minang, orang Minang sudah sangat kuat dengan adatnya. Pada awal da'wah Islam di Minangkabau, ada beberapa kebiasaan orang Minang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti menyabung ayam, minum tuak, berjudi dan beberapa prosesi adat yang berbau animisme.

Tentu saja kebiasaan yang sudah jadi tradisi ini sulit berubah dengan cepat, sekalipun mereka sudah beragama Islam. Dakwah Islam yang dibawa para ulama, tentu berjuang untuk memberantas kebiasaan buruk itu. Perselisihan antara ulama dengan kaum adat yang sangat kuat dengan prinsip-prinsip adatnya tak terhindarkan. Dan pada akhirnya dilakukan pertemuan (musyawarah) besar yang melibatkan kaum adat, cerdik pandai dan ulama di Bukit Marapalam Puncak Pato Tanah Datar.

Pertemuan itu sangat legendaris, karena dari pertemuan itulah terlahir ungkapan adat basandi syara, syara' basandi kitabullah . Inti dari ABS-SBK adalah adanya kesepahaman dari tiger tungku sajarangan bahwa kitabullah (baca: ajaran Islam) adalah payung tertinggi yang menaungi tata cara kehidupan masyarakat Minang secara keseluruhan. Kalaupun masyarakat tidak boleh meninggalkan adat, namun adat yang dipakai haruslah sesuai dengan ajaran Islam. Dalam bahasa lain, ABS-SBK secara hakekat sebenarnya adalah kesepakatan semua orang Minang untuk menjadikan Islam sebagai way of life mereka.

Dengan adanya pemahaman seperti ini, tidak heran kalau Minangkabau sangat identik dengan Islam. Islam telah menjadi sumber energi sekaligus ruh kehidupan budaya orang Minang. Bahkan, pada titik ekstrim kalau ada orang Minang yang keluar dari agama Islam, maka yang bersangkutan secara otomatis tidak lagi berhak disebut sebagai orang Minang. Pendeknya, Orang Minang pasti (beragama) Islam, sekalipun semua orang Islam tidak otomatis menjadi orang Minang.

Melekatnya masyarakat Minang dengan Islam, antara lain, bisa dilihat dari ungkapan yang mengatakan syara' mangato, adaik mamakai. Ungkapan ini berarti bahwa apapun yang digariskan oleh agama (Islam) secara konseptul akan dipatuhi dan dilaksanakan oleh adat secara operasional. Senada dengan itu, petatah petitih adat yang mendeskripsikan beberapa pilar penyangga nagari Minangkabau diantaranya menyebut bahwa sebuah nagari harus memiliki balai jo musajik (pasar dan masjid). Artinya sebuah nagari belum bisa dikatakan nagari Minang yang ideal kalau belum memiliki (salah satunya) masjid sebagai sarana penting peribadatan kaum muslimin. Dengan demikian, sekali lagi, Islam adalah ruh dan energi yang sudah menyatu dengan masyarakat Minangkabau sejak lama.

Nagari Minangkabau Kontemporer

Tak bisa disangkal bahwa gambaran nagari Minangkabau hari ini dalam hubungannya dengan penerapan nilai-nilai Islam sangat jauh dari apa yang digambarkan secara konseptual di atas. Pendeknya, Minangkabau sudah mengalami degradasi nilai dan perubahan budaya yang dahsyat. Nagari Minang sepertinya tak kuat dengan serbuan budaya asing yang dibawa arus globalisasi informasi . Serangan budaya itu telah mengerogoti jiwa orang Minang dan menembus dinding hampir setiap rumah tangga orang Minang saat ini. Sehingga akhimya, konsep adat basandi syara', syara' basandi kitabullah lebih banyak hanya menjadi retorika orang Minang, baik yang di kampung maupun di perantauan.

Tengoklah apa yang terjadi di nagari Minangkabau hari ini. Nilai-nilai luar seperti budaya materialisme, hedonisme, dan bahkan individualisme telah mengganti budaya luhur orang Minang yang dulu dikenal dengan masyarakat yang Islami. Orang Minang tak lagi bangga dengan identitas asli mereka. Lihatlah bagaimana prilaku dan cara berpakaian anak gadih Minang sekarang. Perhatikan juga tingkah polah ibu-ibu muda Minang yang notabene akan menjadi bundo kanduang, limpapeh rumah gadang.

Budaya kontrol sudah semakin berkurang, yang berkembang justru permissivisme. Peran strategis tigo tungko sajarangan sudah semakin memudar dan dirasa tidak lagi efektif menjaga nama baik kampung dan nagari. Hari ini tak banyak lagi orang yang peduli dengan kemaksiatan yang mengotori nagari. Lihatlah siapa yang berani melarang peredaran togel di perkampungan Minang. Siapa yang peduli dengan anak kemanakan yang bermabuk-mabukan. Bahkan, maksiat dalam bentuk zina pun lebih sering diselesaikan dengan penyelesaian biasa-biasa aja ketimbang memprosesnya dengan hukuman yang berat.

Minangkabau, memang sudah berubah. Kalaupun saat ini, seoang trend istilah kembali ke nagari, atau kembali ke surau, tetapi sekali lagi, istilah itu hanya sekedar retorika, dan tidak terlihat aplikasinya secara substantif di lapangan. Kalau kondisi ini dibiarkan begini terus tanpa penyelesaian yang revolusioner, bukan tidak mungkin Minangkabau dengan segala pernik keunikan budayanya hanya akan menjadi cerita indah masa lalu dan kemudian besok atau lusa cerita indah itu hanya bisa kita temukan dalam lembaran sejarah yang tersimpan dalam mesium budaya orang Minangkabau.

Nagari Qur’ani, Kenapa Tidak?

Menurut saya, satu-satunya solusi revolusioner dari permasalahan Minangkabau hari ini adalah dengan secara tegas kembali memproklamirkan al-quran sebagai sumber hukum tertinggi yang harus dipatuhi oleh seluruh orang Minangkabau. Tidak saatnya lagi orang Minang bangga dan berlindung di balik aturan-aturan adat yang tidak secara tegas menjadikan Al-Quran sebagai payung tertinggi. Sudah datang waktunya bagi nagari-nagari Minang mempraktekkan seluruh ajaran Islam secara kaffah dalam seluruh dimensi kehidupan orang Minang. Kalau Aceh, Gorontalo, dan beberapa daerah lain bisa secara tegas dan percaya diri menyatakan daerah mereka bersyariat Islam, kenapa Minangkabau tidak?

Pada tataran praktis, kita mengimpikan lahirnya sebuah nagari Minangkabau yang qurani. Nagari qurani yang kita impikan ini adalah nagari yang dipimpin tidak hanya oleh seorang yang diakui ketokohannya dalam masyarakat tapi jugs seorang yang faqih dalam agama. Pemimpin itu dipilih oleh sebuah lembaga syuro yang diisi oleh perwakilan masyarakat yang diakui kredibilitas dan keislaman mereka. Dengan peinimpin nagari yang seperti itu diharapakan yang bersangkutan punya visi ilhiah untuk membawa masyarakatnya menuju keselamatan di akhirat, sekaligus visi duniawi yang tahu cara bagaimana masyarakatnya bisa hidup damai dan sejahtera di dunia ini.

Dengan wali nagari yang bervisi ilahiah diharapan dia bisa menjadikan Al-quran dan hadist secara tegas sebagai sumber hukum tertinggi takkala nagari menetapkan peraturan nagari yang mengikat semua unsur dalam nagari itu. Diharapkan, implikasi dari penerapan syariat Islam dalam nagari itu kemudian akan terlihat dalam suasana Islami yang terbangun secara kondusif di nagari. Kita membayangkan, nagari qurani itu akan dihiasi dengan akhlak Islami yang indah dari segenap penghuninya. Masjid sebagai sentral aktifitas anak nagari selalu hidup dengan berbagai kegiatan keislaman, tidak hanya dalam bulan Ramadan namun setia saat. Masyarakat hidup bernagari dengan rukun dan damai dibingkai oleh suasana ukhuwah Islamiah yang kental. Barek samo dipikua, ringan samo di jinjiang, tatilantang sama makan angin, tatilungkuik samo makan tanah, tidak hanya sekedar ungkapan retoris, tapi betul-betul terlihat secara real dipraktekkan.

Lebih jauh, di nagari itu kita membayangkan masyarakat hidup dengan aman dan tenang jauh dari perbuatan maksiat. Kalaupun ada maksiat, namun maksiat itu dibasmi dengan hukum yang tegas yang bersifat mendidik dan menyelesaikan permasalahan. Hukuman sosial dalam bentuk pembuangan seseorang dari nagari ketika yang bersangkutan melakukan tindakan maksiat, seperti zina, selayaknya dipertimbangkan kembali untuk diterapakan. Kalaupun hukum positif Indonesia belum memungkinkan hukuman rajam untuk yang berzina, atau potong tangan bagi yang mencuri, tetapi sekali lagi, di nagari qurani itu harus dicari hukuman alternatif yang tegas dan mendidik bagi setiap tindak kejahatan dan maksiat.

Sekali lagi, penulis berkeyakinan hanya dengan kembali ke nilai-nilai Islamlah Minangkabau bisa kembali menemukan jati dirinya. Tentu saja, untuk sampai pada keadaan yang kita inginkan ini tidaklah semudah mengucapkannya. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua unsur untuk menjadikan impian ini menjadi kenyataan. Masalahnya, siapa yang mau memulainya? Mungkinkah gubernur terpilih mendatang? Wallahu a 'lam bissawab

Afrianto Daud, S.Pd Anak Nagari Barung-Barung Belantai, tinggal di Sungayang Batusangkar anto_pasisia@yahoo.com