Bagaimana Mendesaian Pembelajaran Yang Engaging

Oleh: Afrianto Daud (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Riau)

Apa diantara hal penting yang mesti dilakukan guru dan dosen saat mengelola kelas? Memastikan adanya engagement adalah diantara jawabannya.

Inti dari engagement adalah bahwa ada ikatan bathin (ikatan emosi) antara individu di dalam kelas, baik antar guru dan murid, maupun antar satu siswa dengan siswa yang lain. Engagement yang kuat tidak hanya akan membuat siswa bisa fokus pada proses pembelajaran, tetapi juga memungkinkan terbangunnya sense of community di dalam kelas. Ini akan terasa jika antar individu merasa bahwa mereka adalah bagian penting yang berkontribusi pada kesuksesan kelas.
Tantangannya adalah bagaimana seorang guru bisa membangun ikatan yang kuat ini agar pembelajaran berlangsung efektif? Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan guru.
1. Libatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pastikan bahwa anda memandang setiap anggota kelas sebagai individu dengan 'gelas setengah penuh'. Setiap orang bukanlah gelas kosong yang hanya siap diisi. Tapi, mereka adalah individu dengan beberapa pengetahuan awal di kepala mereka tentang topik pembahasan (schemata).
Dengan schemata itu, mereka bisa berkontribusi, bahkan bisa menjadi diantara sumber belajar yang akan memperkaya pembahasan materi di dalam kelas. Dengan demikian, guru dan dosen semestinya tidak mengangap bahwa dia adalah sumber belajar satu-satunya di dalam kelas.
2. Pelibatan ini kemudian bisa dilakukan dengan cara mendesain kelas partisipatif, interaktif, dan kolaboratif. Siswa harus ditempatkan sebagai subjek pembelajaran, bukan objek yang pasif. Peran guru harus lebih banyak memfasilitasi pembelajaran dengan berbagai kegiatan yang memungkian setiap individu berinteraksi, bersosialisasi, dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran. Inilah diantara inti pembelajaran yang berpusat kepada siswa (SCL), yang sekarang banyak diadopsi sebagai pendekatan pembelajaran terkini.
3. Sebagai fasilitator, pastikan anda bisa mengontrol setiap kegiatan siswa dengan baik. Salah satu cara efetif adalah, berjalan dan berkelilinglah di dalam kelas. Jangan jadi guru pemalas, yang hanya duduk di bangku guru, tak pernah berdiri, dari awal sampai kelas selesai.
4. Guru adalah derigent yang menentukan warna orkestrasi di dalam kelas. Jadi, meskipun pembelajaran berpusat pada siswa, keberhasilan SCL ini sangat ditentukan oleh ketrampilan guru mengarahkan, menghidupkan, dan mengatur naik turun 'nada pembelajaran' selama kelas berlangsung.
5. Gunakan bantuan teknologi dalam mendesain dan mengorkestrasi pembelajaran. Kerja kelompok, diskusi, presentasi, bahkan permainan di dalam kelas tentu tetap bisa dilakukan dengan cara tradisional, tetapi ada banyak aplikasi yang memungkinkan kegiatan pembelajaran aktif, interaktif, partisipatif, dan kolaboratif ini bisa berlangsung lebih efektif dan lebih efisien.
Dengan demikian, selain menguasai prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivisme dan sosial konstruktivisme yang dulu dipopulerkan ahli seperti Piaget dan Vygotsky, guru dan dosen perlu juga memperkaya dengan teori pembelajaran mutakhir di era digital berbasis ide Connectivisme yang diperkenalkan Siemen (2005).
Bagaimana melihat kualitas engagement di kelas kita? Salah satunya ketika siswa merasa waktu belajar di kelas berjalan seperti malam pertama penganten baru.
Eh, tiba-tiba kok sudah pagi aja harinya. Padahal ... 😁😅
 Ketika siswa (ter)tidur di kelas

Ketika siswa (ter)tidur di kelas

Oleh. Afrianto Daud

Sedang viral sebuah video yang merekam aksi seorang ibu guru menyiram seorang siswa yang sedang (ter)tidur di kelasnya. Video ini dikomentari banyak orang. Walau satu dua ada yang mencoba memahami mengapa si ibu sampai membangunkan anak dengan cara seperti itu, mayoritas netizen berkomentar negatif. Mereka menyayangkan bahkan mengecam aksi kurang elok yang dilakukan si ibu guru.
Tentu sang ibu guru dan siswa yang ada di kelasnya yang persis tahu detail kisahnya, tentang apa yang terjadi sebelum aksi yang terlihat di dalam video. Namun, secara umum keputusan sang ibu guru membangunkan siswa yang tidur dengan cara seperti itu memang tidak tepat. Aksi itu dipandang tidak bijak dilihat dari berbagai sudut pandang, baik secara pedagogis maupun psikologis. Kabarnya sang guru dan pihak sekolah sudah meminta maaf dan berdamai dengan siswa.
Penting diingat oleh setiap pendidik dimanapun bahwa pada dasarnya setiap anak sudah memiliki niat baik dari rumah ke sekolah. Mereka berangkat dari rumah dengan niat belajar. Mereka berusaha bangun di pagi hari. Sebagian memaksakan diri mandi. Kemudian berangkat ke sekolah, bahkan kadang tak sempat sarapan pagi. Waktu sekolah di Indonesia memang agak kepagian dibanding jam sekolah di banyak negara.

Dengan demikian, jika anak yang sebelumnya di pagi hari dengan semangat datang ke sekolah, tetapi kemudian jadi tertidur di ruang kelas, penyebabnya tidaklah tunggal. Penyebabnya tidak selalu bermakna si anak adalah anak pemalas, tak mau diatur, tukang tidur dan sejenisnya. Sangat boleh jadi ada sebab lain.
Saya cenderung mengatakan bahwa jika ada kejadian siswa tertidur di kelas, pihak pertama yang wajib melakukan refeleksi adalah guru. Apakah kita para guru telah melakukan proses pembelajaran yang menarik, yang membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Apakah kita sudah bisa mengorkestrasi kelas kita sedimikian rupa dengan berbagai metode pembelajaran yang 'membangunkan siswa' sehingga anak-anak itu bisa terus hidup di kelas, lupa dengan dunia di luar, bahkan tak sempat untuk menguap?
Jika anda sudah melakukan yang terbaik dalam pengelolaan kelas, kemudian tetap masih ada satu dua anak yang terlihat tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, seperti tertidur di kelas itu. Maka, kita para guru perlu bertindak bijak. Mencoba mencari tahu apa sesungguhnya penyebab mereka tertidur.
Apakah karena siswa sedang sakit, misalnya. Bisa juga karena siswa semalam kurang tidur karena begadang membuat berbagai tugas yang diberikan guru pada hari sebelumnya, atau karena siswa sudah kecapean dengan berbagai kegiatan di sekolah yang sering padat, dari pagi sampai sore. Sehingga tubuhnya secara natural meminta istirahat.
Karena alasan siswa tertidur itu majemuk, maka guru perlu hati-hati menghadapi siswa yang tertidur ini. Diantara cara yang bisa dilakukan guru adalah dengan mendekat secara fisik ke arah siswa yang sedang tertidur, kemudian memanggil namanya tanpa dia duga. Seringkali tidurnya siswa di kelas hanyalah 'lalok-lalok' ayam, yang dengan mudah dibangungkan hanya dengan cara guru berdiri di dekat siswa yang sedang lalok-lalok ayam itu.
Cara lain, tentu dengan membangunkan siswa baik-baik. Bisa dengan menyentuh pundaknya, menyebut namanya, Biasanya sangat mudah membangunkan dengan cara ini. Setelah terbangun guru dengan baik-baik bisa meminta siswa ke luar kelas, mencuci muka. Seringkali cara ini efektif membuat anak kembali segar dan bisa kembali mengikuti pelajaran.
Jika setelah kembali kelas, siswa yang bersangkutan masih tetap terkantuk-kantuk, guru harus sensitif bahwa itu memang adalah tanda-tanda alamiah yang tak bisa dipaksakan. Satu-satunya obat mengantuk memang adalah tidur itu sendiri. Di beberapa sekolah di negara maju bahkan ada jadwal 'tidur siang' untuk memberi kesempatan siswa beristirahat.
Untuk alasan ini saya pernah mempersilakan seorang mahasiswa yang tetap mengantuk di kelas saya untuk pindah ke ruang kosong di sebelah.
'Silakan saudara tidur sekejap di ruang sebelah. Setelah itu balik lagi ke kelas ini', demikian suatu hari saya memberi kesempatan.
Besoknya ketika kembali bertemu dengan mahasiswa, saya tanya, 'You mengapa terlihat sering mengantuk di kelas?', selidik saya.
Tak langsung dia jawab, tetapi setelah saya tanya lagi, dia kemudian memberi penjelasan.
"Maaf sir. Saya harus bekerja di warnet setiap malam. Saya kuliah atas biaya saya sendiri. Saat ini hanya bekerja di warnet itu yang bisa saya lakukan untuk bisa bertahan kuliah dan bisa tetap hidup'.
Saya kemudian menemukan jawaban mengapa si mahasiswa sering terlihat mengantuk. Cerita seperti ini penting diketahui guru ataupun dosen agar tak sembarangan main siram-siraman di dalam kelas, seperti pada video viral itu.
Kejadian seperti yang kita lihat di video itu bisa membawa dampak psikologis berupa rasa malu dan bahkan trauma pada diri siswa. Luka psikologis ini bisa menjadi asbab siswa tak mau dan tak mampu mengikuti kelas berikutnya dengan baik. Apalagi kalau sudah sampai viral sedunia. Siswa dan sekolah bisa saja berdamai, tetapi luka psikologis itu bisa tetap bertahan lama. Bisa merusak masa depan siswa. Kita tentu tak ingin itu terjadi pada anak-anak kita.
Wallahu a'lam!
Belajar Luring Penuh dan Potensi 'Reverse Culture Shock'

Belajar Luring Penuh dan Potensi 'Reverse Culture Shock'

 

Oleh: Afrianto Daud

(Dosen FKIP Universitas Riau)

 

Banyak kampus mulai mengumumkan bahwa kegiatan perkuliahan akan berlangsung tatap muka penuh di kampus (full offline) menyusul relaksasi aturan prokes dan proses pembelajaran di perguruan tinggi. Diantara basis aturan kembalinya kampus membuka proses pembelajaran tatap muka penuh ini adalah Surat Edaran (SE) Mentri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 7 thun 2022 tentang diskresi pelaksanaan keputusan bersama 4 (empat) menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). Salah satu inti dari SE ini adalah bahwa pimpinan pemerintah daerah bisa melakukan kebijakan dan keputusan sendiri terkait proses pembelajaran seratus persen dengan mempertimbangkan kondisi daerah masing-masing tanpa harus terikat secara ketat dengan tiga Keputusan Bersama Empat Menteri sebelumnya.


Pembelajaran tatap muka penuh di darat ini bahkan telah dimulai lama oleh satuan pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Satuan pendidikan dasar dan menengah ini bisa dikatakan 'lebih progressif' dalam halam penerapan prokes dan pelaksanaan pembelajaran luring. Salah satu alasannya tentu adalah karena pandemi yang melanda dunia sudah mulai menjadi endemi. Bahayanya dianggap tidak semengkhwatirkan dulu. Angka vaksinasi juga terus meningkat. Sekolah dan kampus dianggap kembali aman untuk kembali menyelenggarakan proses pendidikan seperti sebelum pandemi. Tentu, dengan beberapa catatan terkait penerapan prokes.

Saya menduga akan terjadi semacam 'reverse culture shock' bagi sebagian dosen dan mahasiswa saat akan kembali belajar luring penuh di kampus. Reverse culture shock sendiri aslinya adalah terkait fenomena yang cenderung dialami oleh individu yang pernah tinggal sementara di suatu daerah asing dan kembali lagi ke lingkungan asalnya. Mereka yang lama tinggal di luar negeri dengan segala budayanya akan mengalama kejut budaya saat mereka kembali ke tanah air. Dalam konteks tulisan ini, reverse culture shock bermakna 'kejut budaya' yang dialami dosen dan mahasiswa ketika kembali belajar luring setelah sebelumnya terbiasa dengan belajar daring.

Ketika di awal pandemi banyak dosen dan mahasiswa (juga guru dan siswa) yang merasa terkejut dengan perubahan moda belajar dari tatap muka luring menjadi daring penuh. Dulu, sebagian dosen dan guru bingung bagaimana bisa mengelola kelas daring secara efektif. Mereka mengalami culture shock. Namun setelah menjalani proses belajar daring selama lebih dua tahun selama pandemi, dosen, guru, mahasiswa, dan siswa telah mulai terbiasa dengan segala proses daring ini. Mereka bisa saja telah memiliki budaya baru dalam hal proses pembelajaran. Budaya baru itu terkait dengan budaya digital yang difasilitasi oleh ekosistem pembelajaran virtual.

Banyak guru dan dosen makin terampil mempersiapkan pembelajaran daring seperti membuat perangkat pembelajaran berbasis digital, mengelola materi di Manajemen Sistem Pembelajaran (LMS), berinteraksi secara synchronous dengan mahasiswa melalui berbagai platform video konfrerensi, membuat video pembelajaran, sampai melakukan kuis dan penilaian dengan memanfaatkan banyak fitur pembelajaran berbasis online.

Pada sa’at yang sama, mahasiswa juga semakin literat secara digital. Kemampuan mahasiswa dalam adaptasi dengan budaya pembelajaran digital ini bisa lebih cepat dari sebagian dosen. Terlepas dari masalah jaringan di beberapa wilayah yang masih belum begitu kuat, secara teknikal banyak mahasiswa dan juga dosen saat ini sudah tidak lagi bermasalah dengan proses pembelajaran daring ini.

Tak heran jika beberapa survey terakhir mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa lebih memilih belajar daring ketimbang luring. Sebuah survey yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) di awal tahun 2022, misalnya, mencatat bahwa  mahasiswa yang memiliki preferensi luring mencapai 71 persen, sisanya sekitar 29 persen lebih suka daring. Data ini berbeda ketika survey dengan topik yang sama pada awal pandemi dulu. Survey Kemendikbud tahun 2020  misalnya mengungkap bahwa 90 persen mahasiswa lebih memilih kuliah tatap muka ketimbang daring.

Perubahan penerimaan mahasiswa terhadap pembelajaran daring ini tak hanya karena pembelajaran daring memberikan fleksibelitas lebih kepada mahasiswa dan juga dosen dalam hal tempat dan waktu belajar, tetapi juga saya yakin karena mahasiswa dan dosen semakin terampil dengan pengelolaan kelas daring ini. Berkembangnya ketrampilan dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran daring ini tentu juga akan meningkatkan efektivitas pembelajaran daring.


Menghadapi Reverse Culture Shock

Diantara bentuk reverse culture shock itu adalah sangat bisa jadi dosen akan merasa terkejut ketika berbagai kemudahan yang mereka rasakan saat belajar daring tidak lagi mereka peroleh saat pembelajaran tatap muka penuh. Ketika pembelajaran daring, misalnya, mereka dengan mudah berbagi layar melalui fitur share screen di platform video konferensi saat kuliah melalui Zoom, Webex, Google Meet, dan lainnya. Ketika luring  bisa jadi mereka akan mengalami kesulitian melakukan ini. Kadang sebagian dosen bisa menghabiskan waktu menunggu mahasiswa mencari infokus atau proyektor yang bisa tersambung ke laptop dosen di ruang kelas. Tidak semua ruangan di sekolah dan juga di kampus yang sudah terinstalasi proyektor. Proyektor bahkan mungkin masih dianggap benda mewah di banyak ruang kelas perkuliahan.

Melalui share screen, dosen juga dengan mudah berbagi banyak materi ajar seperti video, gambar, animasi, audio, games, dan materi perkuliahan lainnya secara daring. Kemudahan ini bisa jadi menjadi sesuatu yang tak mudah saat dosen mengajar luring penuh di kelas. Tak semua kelas yang dilengkapi fasilitas loud speaker untuk mendengarkan audio, misalnya. Akibatnya, materi-materi yang sebelumnya dengan mudah digunakan dosen sebagai pengaya materi pekuliahan ketika daring bisa jadi tak bisa lagi digunakan secara efektif dan efisien ketika luring penuh itu.

Inilah diantara bentuk potensi ‘budaya kejut balik’ yang mungkin akan dirsakan sebagian dosen dan mahasiswa. Mereka akan kehilangan beberapa kemudahan saat proses belajar daring. Ini belum lagi bicara kenyamanan suasana daring yang bakal tak ditemui saat daring. Dosen dan mahasiswa bisa mengikuti dan melakukan proses belajar dengan suasana santai ditemani secangkir kopi panas di meja kerja/belajar. Ketika luring penuh suasana ini sulit diperoleh. Yang ada justru bisa jadi adalah suasana kering dan kepanasan akibat banyak ruang perkuliahan yang belum dilengkapi sarana air conditioner.

Tentu adalah hal yang bagus jika kampus dan sekolah bisa kembali bertatap muka penuh. Apalagi memang ada beberapa mata kuliah yang tak bisa sepenuhnya daring. Mata kuliah yang memerlukan praktikum, misalnya. Proses pendidikan yang ideal juga memerlukan interaksi fisik yang ril di dunia nyata. Namun, kembalinya proses pembelajaran tatap muka seratus persen itu tidak mesti diartikan kembali persis seperti sebelum pandemi. Life will never be same again after pandemic. Bahwa kehidupan kita tak kan lagi persis sama dengan sebelum pandemic. Termasuk di dunia pendidikan.

Oleh karena itu, ketika sekarang kecendrungan semua kampus kembali tatap muka penuh, penting bagi kampus mempersiapkan beberapa hal, terutama untuk mempertahankan segala hal baik yang diperoleh selama belajar daring. Kemapuan dosen dan mahasiswa dengan literasi digital terkait perkuliahan mesti terus difasilitasi kampus. Pembelajaran dan atau perkuliahan di kampus sebaiknya tidak kembali ke masa lalu yang jauh dari sentuhan teknologi digital. Segala hal yang baik itu mesti terus dipertahankan.

Walaupun perkuliahan tatap muka seratus persen, dosen mesti diberikan kebebasan untuk bisa tetap mempertahankan sebagai budaya belajar virtual itu. Misalnya dosen bisa mengelola kelasnya dengan moda perkuliahan yang mengadopsi prinsip pembelajaran bauran (blended learning), dimana perkuliahan bisa dilakukan dengan campuran antara tatap muka langsung dan tatap muka maya. Untuk ini, kampus harus tetap merawat Learning Management System (LMS) mereka sehingga dosen bisa mengelola materi perkuliahan dan mahasiswa bisa mengakses materi di sana. Mahasiswa bisa belajar mandiri secara asinkronous sebelum bertatap muka kembali dengan dosen pada pertemuan berikutnya.

Selain membangun infrastruktur pembelajaran digital yang kuat, sudah kewajiban kampus juga membanguan ruangan kelas pintar yang ramah digital (digital smart classroom). Kampus wajib memastikan ada akses internet di setiap ruang kelas. Paling tidak setiap ruang kelas sudah mesti terinstalasi proyektor dan loud speaker yang cukup baik. Peralatan ini bisa digunakan dosen kapan saja mereka perlu tanpa harus mencari-cari atau meminjam ke sana kemari sebelum perkuliahan. Ruangan perkuliahan mesti dibikin senyaman mungkin. Tidak mesti seperti senyaman hotel. Setidaknya ada pendingin ruangan yang memungkinkan dosen dan mahasiswa betah dan tidak gerah berlama-lama di ruangan kelas.

Jika semua hal terjadi karena satu alasan, maka pandemi ini kita yakini juga terjadi karena alasan tertentu. Ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil selama prosesnya, termasuk pembelajaran atau hal-hal baik terkait pembelajaran daring. Kita perlu mempertahankan dan terus tumbuhkan segala hal praktik baik terkait pembelajaran daring itu, walau saat ini kampus telah mengumumkan pembelajaran tatap muka seratur persen. Sekali lagi, life will never be same after pandemic. Hidup kita tak kan pernah persis sama lagi seperti sebelum pandemi. Wallahu a’alam.

--
Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Riau Pos, Senin 15 Agustus 2022

Bergerak Bersama Selama Pandemi: Sebuah Praktik Baik

Oleh: Afrianto Daud

(Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Riau)

Sudah lebih satu setengah tahun tatanan dunia terguncang hebat karena pandemi bernama Covid19. Pandemi ini telah menghancurkan dan mendisrupsi banyak hal, terutama ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Angka pengangguran dan kemiskinan melonjak tajam. Banyak orang yang tiba-tiba kehilangan pekerjaaan karena pembatasan aktivitas manusia. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus lalu, misalnya, menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada periode yang sama 2019 lalu.

Pada sektor pendidikan, pandemi telah memaksa jutaan sekolah di dunia tutup secara fisik. Moda pendidikan beralih ke pembelajaran daring secara masif. Semua perubahan yang tiba-tiba ini tentu telah mengganggu jalannya proses pendidikan bagi 1,5 milyar anak didik di dunia. Pembelajaran daring selama pandemi tidak efektif. Laporan dari Bank Dunia tahun 2020 menyebut bahwa rata-rata efektivitas pembelajaran daring hanya berkisar 33-40 persen saja.

Tutupnya sekolah dalam waktu lama telah berakibat serius pada proses pendidikan. Pembelajaran daring mengalami banyak masalah. Tidak efektif. Anak-anak kita tidak hanya mengalami tekanan baru, stress akibat banyak tugas selama belahar daring, mereka juga sedang berada pada ancaman serius berupa kehilangan kesempatan untuk belajar (learning loss). Laporan terbaru UNICEF menyebut bahwa ada 24 juta siswa terancam putus sekolah karena pandemi. Pada jangka panjang, anak didik kita akan kehilangan banyak ketrampilan yang seharusnya mereka miliki. Kita terancama kehilangan generasi terbaik.

Pada kondisi seperti ini sangat diperlukan kerjsama dan sinergi nyata antara berbagai stakeholder pendidikan: pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Jalannya proses pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tentu tak akan sanggup berjalan sendiri, tanpa ada dukungan dari pihak lain, seperti masyarakat itu. Apalagi pemerintah juga harus menghadapi tantangan lain akibat pandemi, terutama bagaimana menekan angka korban kematian akibat pandemi, termasuk bagaimana menyelematkan ekonomi nasional yang terseok akibat banyak pembatasan selama pandemi.


Praktik Baik dari Ranah Minang

Kita bersyukur bahwa sinergi dan kolaborasi masyarakat dalam menjalankan pendidikan selama pandemi ini bisa dicontohkan dengan baik oleh masyarakat pelaku dan pemerhati pendidikan Minangkabau yang difasilitasi oleh Minangkabau Diaspora Global Network (MDGN). Ini adalah jejaring perantau Minang yang tersebar di banyak belahan dunia. Perkembangan teknologi digital telah memudahkan ratusan ribu perantau Minang di dunia terhubung melalui jaringan MDGN ini.

Selama hampir dua tahun terakhir, di bawah arahan Prof Fasli Jalal, wakil menteri pendidikan nasional semasa pemerintahan SBY, dan saudara Burmalis Ilyas, salah seorang pimpinan di MDGN, MDGN telah melakukan banyak sekali kegiatan inovatif yang menarik dan bermanfa’at. Salah satunya MDGN mentaja kegiatan workshop berseri di bidang pendidikan untuk membantu ribuan guru di ranah Minang untuk bisa bertahan dan tetap produktif menjalankan pendidikan selama pandemi ini.

Pelatihan online berseri ini diisi oleh banyak pakar pendidikan berasal dari beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat, Riau, Jakarta, dan Australia. Konten pelatihan beragam, mulai dari filosofi belajar daring, metodologi pengajaran selama pandemi, media pembelajaran, sampai hal-hal yang lebih praktis, seperti bagaimana membuat video pembelajaran, LKPD digital, mengelola Learning Management System (LMS), dan lainnya.

Yang paling menarik dari proses workshop yang berjalan lebih tiga bulan ini adalah semuanya dilakukan secara volounteer dengan biaya yang nyaris nol. Semua bergerak atas dasar sukarela dan atas dasar kemauan dan kepedulian terhadap pendidikan di ranah Minang. Setiap pihak seakan berlomba memberikan sesuatu, berkontribusi yang mereka bisa untuk kemajuan pendidikan di ranah Minang, terutama selama pandemi.

Yang tak kalah mengesankan adalah bahwa workshop ini selalu diikuti oleh ribuan peserta pada setiap sesinya. Peserta tidak hanya datang dari ribuan guru (SD-SLTA) di Sumatera Barat, tetapi juga para guru dari daerah lain. Mayoritas guru sangat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. Hal ini terlihat dari antusiasme mereka bertanya, termasuk mengerjakan latihan dan atau tugas setelah sesi materi berlangsung.

Suksesnya kegiatan workshop berseri MDGN selama pandemi juga tak bisa dilepaskan dari adanya dukungan yang kuat dari pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah di Sumatera Barat. Pada setiap sesi workshop selalu ada pihak pemerintahan yang hadir, mulai dari gubernur Sumatera Barat (Irwan Prayitno dan kemudian dilanjutkan Mahyeldi) sampai para bupati dan walikota. Komitemen pemerintah daerah mensukseskan kegiatan workshop daring ini salah satunya ditunjukan dengan himbauan setiap dinas kepada semua guru untuk hadir dan berpartisipasi pada workshop ini.

Apa yang dilakukan MDGN dan pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Sumatera Barat jelas adalah sebuah praktek baik (best practice) yang pantas ditiru oleh daerah lain terkait bagaimana berbagai pihak bisa bekerjasama mencari jalan keluar dalam menghadapi tantangan yang muncul selama pandemi.  Praktik baik seperti ini sangat diperlukan bagi banyak komunitas pendidikan yang sedang mencari cara-cara terbaik menyikapi dampak pandemi terhadap pendidikan.

Saat ini Kementrian Pendidikan Nasional dibawah pimpinan Nadiem Makarim sedang meluncurkan program Organisasi Penggerak dalam rangka mengakselerasi ketercapaian program merdeka belajar. Ada anggaran cukup besar (595 milyar) yang disediakan untuk operasional program ini. Jika banyak organisasi penggerak yang memperoleh dana cukup besar itu baru saja memulai kerja mereka, MDGN telah memberikan contoh nyata bagaimana bergerak, berkontribusi, dan memberikan solusi terhadap pemasalahan pendidikan anak negeri. MDGN sesungguhnya telah menjadi contoh organisasi penggerak, walau tanpa anggaran pemerintah.

Terimakasih dan semoga Allah memberkati. Saya bangga pernah menjadi bagian kecil dari praktik baik ini.
 Kematian dan Kepulangan

Kematian dan Kepulangan

Oleh: Afrianto Daud

Dari beberapa istilah yang digunakan oleh masyarakat kita dalam merujuk pada kematian, seperti 'meninggal', 'sampai ajal', 'tewas, 'wafat', atau 'mati' itu sendiri, saya paling suka dengan istilah 'berpulang'.
Ya, pulang, atau berpulang!
Istilah ini langsung menukik pada substansi kematian itu sendiri dalam hubungannya dengan kehidupan di dunia. Bahwa kematian bukanlah akhir perjalanan kehidupan. Dia hanyalah jembatan yang mengantarkan seseorang untuk pulang ke rumahnya, ke kampung halamannya.
Istilah ini sekaligus mengingatkan kita tentang substansi kehidupan di dunia yang sesungguhnya tak lebih dari 'negeri rantau', bukan tempat menetap selamanya. Karenanya, meminjam istilah Ibnu Al Jauzi, seorang perantau seyogianya tidak pantas menjadikan dunia itu sebagai rumah yang diimpikan. Dia hanyalah jembatan.
Setiap momen kepulangan pasti dipenuhi suasana emosional. Baik bagi mereka yang akan pergi, maupun yang ditinggalkan. Bagi seorang perantau, momen kepulangan adalah momen yang ditunggu. Kepulangan adalah momen yang dirindu. Tentu bukan pulang dengan tangan hampa. Tetapi, pulang sebagai 'perantau sukses'.
Bagi yang ditinggalkan, melepas mereka yang pulang (for good) bisa jadi akan diwarnai pelukan erat, dan isak tangis. Normal, sejak dahulu isak tangis dan sedu sedan hampir selalu menjadi bukti paling otentik yang merefleksikan cinta dan kasih sayang saat berpisah.
Namun jika kembali kepada filosopi 'berpulang' itu, maka seharusnya isak tangis itu tak boleh lama. Toh, semua kita akan berpulang, bukan?
Jika mereka yang tahu dimana rumahnya akan merindu untuk pulang, bisa jadi ada mereka yang tak mau pulang atau tak tahu jalan untuk pulang. Jika sampai pada posisi seperti ini, maka sebagai perantau kita perlu berhenti sejenak; merenungi jalan hidup tentang dimana dan mau kemana.
Jangan sampai, kita termasuk mereka yang tak mau 'pulang'. Mau atau tidak, kita pasti akan pulang, kawan.
Kita tak mau? Tapi akan ada waktunya kita akan 'dipaksa pulang'. Inilah kepulangan yang menyedihkan.
THE END!
* Lukisan karya Wafa sebagai ilustrasi.
May be an illustration of outdoors

 Saat Guru di Depan Kelas

Saat Guru di Depan Kelas

 Oleh: Afrianto Daud

Ketika guru berdiri di depan kelas, maka dia sesungguhnya sedang menjalankan peran yang kompleks. Tak hanya sekedar bicara menjelaskan pelajaran, tetapi lebih dari itu. Seorang guru sesungguhnya berperan jamak. Ada yang langsung terlihat oleh siswa. Banyak yang tak terlihat.
Seorang guru bahkan telah menjalankan tugas itu jauh sebelum dia berdiri di depan kelas. Layaknya sebuah pertunjukan drama, guru adalah penulis naskah 'kisah drama' yang akan dia pentaskan di dalam kelas. Untuk ini dia mesti menyusun skenario pembelajaran. Sebutlah itu lesson plan, materi ajar, quiz, dan media pembelajaran.
Saat harinya tiba, guru tak hanya menjadi seorang yang mentransfer pengetahuan, dia juga adalah seorang 'aktor' yang tengah memainkan peran dari skenario naskah yang dia tulis. Agar sukses dan bisa memikat penonton, dia harus benar-benar bisa menjiwai peran yang dia lakukan. Dia mesti menjalankan peran itu secara penuh. Mengajar sepenuh jiwa - being a passionate teacher.
Jika semua kalimat guru adalah magic, maka dalam memainkan perannya sebagai aktor, setiap gerakan guru di depan siswa (besar atau kecil, terlihat atau sumir) bermakna. Ya, setiap gerakan guru sekecil apapun akan menyampaikan banyak pesan kepada siswa.
Senyuman guru akan mengalirkan energi positif kepada siswa. Anggukan guru akan memberi keyakinan dan keberanian siswa untuk bereksplorasi. Tepukan kecil di pundak siswa mengalirkan semangat. Sebaliknya, wajah guru yang cemberut akan membuat kelas menjadi tak nyaman. Gelengan kepala guru akan menciutkan nyali siswa. Guru yang terkantuk-kantuk di depan siswa telah membubarkan esensi kelas jauh sebelum lonceng pulang berbunyi.
Karena setiap kata dan gerakan tubuh guru bicara, itulah sebabnya guru dianjurkan untuk memperhatikan tampilan fisiknya. Guru mesti tampil rapi dan enak dipandang, misalnya. Jangan sampai guru lupa memasang satu kancing bajunya. Lupa memasang ikat pinggang. Atau malah lupa memasang rensleting celana. Bahaya!
Guru mesti pandai 'berminyak air', mengelola perasaan. Semarah apapun guru pada sebuah suasana, dia terlarang marah besar, bermerah muka, apalagi sambil membentak-bentak di depan kelas. Dia harus belajar kepada pembaca berita di layar TV, yang tetap tersenyum di hadapan layar, walau hati dan jiwanya mungkin sedang berduka. Ini tak mudah, tapi guru hebat  biasanya bisa melakukannya .
Guru adalah juga dirigen yang memimpin sebuah orkestra. Dia yang menjadi pengarah kemana suasana kelas akan di bawa. Dia yang menentukan naik turun nada. Dialah diantara sumber penting semangat yang mengaliri jiwa siswa.
Maka, jika ada siswa yang mengantuk di dalam kelas, itu tak selalu salahnya siswa. Tapi, bisa jadi karena gurunya tak mampu mengorkestrasi kelas sebagaimana seharusnya. Jika ada siswa yang tak paham materi yang diajarkan guru, belum tentu karena siswanya kurang pintar dan sejenisnya. Boleh jadi lebih pada guru yang perlu memperbaiki cara mengajarnya.
Tentu tak hanya itu peran jamak guru. Masih banyak lagi.
Pernah kau mencoba menghitung banyak bintang di langit? Bisa? Kalau tak bisa. Kira-kira begitulah banyaknya tugas dan peran guru.
Karena banyak itulah, wajar jika guru disebut sebagai pahlawan peradaban. Inilah kelompok manusia yang akan pertama masuk surga, jika mereka ikhlas menjalankan tugasnya.
Aamiin
--
*Foto sebagai ilustrasi saja :-)
May be an image of 4 people and people standing
Like
Comment
Share
Bagaimana Menjadi Public Speaker Hebat

Bagaimana Menjadi Public Speaker Hebat

Oleh: Afrianto Daud

Kemampuan berbicara dan menyampaikan ide di depan banyak orang itu penting. Sebuah ide, sehebat apapun, jika tidak pernah dikomunikasikan dengan baik kepada orang lain, hanya akan tinggal sekedar ide personal yang tak akan berdampak apapun kepada orang lain. Ide hebat yang dikomunikasikan secara baik sangat mungkin bisa menghebatkan orang lain. Itulah diantara alasan mengapa public speaking skills itu penting.

Masalahnya, banyak orang yang merasa tak percaya diri tampil di depan khalayak. Banyak yang gugup, berkeringat dingin, mules, dan sejenisnya saat mesti bicara di hadapan banyak orang. Ini sebenarnya adalah gejala normal. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Secara umum ini disebut dengan 'stage fright', atau 'demam panggung'. Ada juga yang menyebutnya dengan 'speaking anxiety'. Sebuah reaksi psikologis yang normal. Biasanya terjadi pada para pemula. Mereka yang belum memiliki jam terbang yang tinggi berdiri di depan massa.

Saya masih ingat bagaimana dulu badan saya terasa ringan seperti tidak mencecah bumi, muka pucat, keringat dingin, gemetaran, saat pertama kali berpidato dalam kegiatan 'muhadarah' di sekolah Tsanawiah kami. Sekali lagi, ini adalah gejala normal.

Berita baiknya adalah bahwa pada dasarnya setiap orang berpotensi menjadi public speaker yang hebat. Separt kata Dale Carnegie, "Great speakers are not born; they are most definitely trained. Bahwa para pembicara hebat itu bukanlah dilahirkan. Mereka berhasil karena dilatih."

Latihan terus menerus adalah kunci. Jam terbang menjadi variabel penting. Semakin sering anda memberanikan diri tampil di depan banyak orang, semakin baik performa anda. Bahkan anda bisa sampai pada satu titik - addicted to public speaking. Percaya ataupun tidak.

Salah satu poin penting yang perlu anda ingat saat bicara di depan khalayak adalah bahwa audien cenderung akan perhatian dan mendengarkan pembicara yang mereka senangi. People listen to the speakers they like.

Karena alasan inilah, penting sekali bagi seorang pembicara untuk membangun hubungan emosi dengan audien sebelum dia menyampaikan inti presentasinya. Hubungan ini biasanya dikenal dengan istilah 'rapport'. Semacam koneksi jiwa antara pembicara dan pendengar.

Agar terbangunnya rapport, diantara yang bisa dilakukan pembicara adalah dengan sedikit berkenalan dengan audien di awal presentasi. Jika anda bisa membuat joke ringan yang bisa membuat audien tersenyum dan tertawa di awal presentasi anda, itu adalah tanda bahwa rapport anda sudah mulai terbangun.

Setelah ini anda bisa meneruskan presentasi. Pastikan anda menguasai apa yang anda sampaikan. Siapkan beberapa alat bantu, seperti kartu catatan kecil atau slide ppt untuk membantu anda mengingat poin penting yang akan anda sampaikan.

Selain menyampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dengan nada dan intonasi suara yang tepat, pastikan juga anda memberi perhatian khsusus pada aspek non-verbal communication, seperti gerakan badan, tangan, facial expression, eye contact, dan lainnya. Dalam banyak kasus, non verbal communication ini jauh lebih powerful menyampaikan pesan kepada audien daripada bahasa verbal.

Apalagi yang anda perlukan untuk menjadi public speakers yang hebat? Tentu masih banyak lagi. Tapi, saya cukupkan sampai di sini dulu. Kepanjangan untuk sekedar intro postingan foto ini. Wkwkwk . :-)

May be an image of 2 people, people sitting and people standing

Publikasi dan Reference Manager

 Oleh: Afrianto Daud

Geliat dunia publikasi di Indonesia belakangan makin baik. Tidak hanya di kalangan dosen dan guru, tetap juga di kalangan peneliti non dosen yang bekerja di badan perencanaan dan penelitian. Publikasi bahkan juga mulai marak di beberapa lembaga non-profit atau NGO.
Tidak mengherankan, bahwa secara kuantitas jumlah publikasi dari penulis Indonesia meningkat tajam dalam 6 tahun terakhir. Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi ( Diktiristek ) Kemendikbudristek Prof Nizam mengatakan dalam kurun waktu 6 tahun jumlah publikasi internasional yang dihasilkan para akademisi meningkat 600%. Wow!
Peningkatan kuantitas publikasi ini tentu adalah tanda-tanda baik. Tidak hanya mengindikasikan bahwa banyak orang Indonesia mulai masuk ke khazanah ilmu pengetahuan tingkat dunia, hal ini juga tentu akan memberi dampak jangka panjang pada keberlangsungan pengetahuan. Ilmu yang terpublikasi akan berdampak luas. Dunia yang menglobal membuat jangkauan dampak publikasi seperti nyaris tak terhitung.
Selain aspek konten (yang menjadi core publikasi), para penulis juga perlu memiliki kemampuan teknis, seperti membuat sitasi dan menulis referensi dengan benar sesuai standar yang diminta jurnal yang dituju. Kesalahan pada aspek teknis ini tak jarang membuat sebuah publikasi ditolak. Padahal, konten tulisan bisa jadi bagus.
Rejection karena aspek layout dan teknis ini terjadi karena biasanya sebuah manuskrip akan pertama kali diperiksa oleh editor jurnal sebelum diteruskan ke reviewer. Selain memeriksa kesesuaian skop tulisan pada jurnal, editor juga akan memeriksa kesesuaian tata cara penulisan (misalnya sitasi dan referensi) dengan guideline jurnal. Jika tidak sesuai, seorang editor bisa saja mengembalikan atau menolak sebuah submission sebelum melihat content secara utuh.
Sayang sekali bukan?
Untuk alasan itulah para penulis perlu bekerja dengan apa yang disebut dengan 'reference manager'. Sebuah software yang dikembangkan untuk membantu penulis mengelola referensi, termasuk dalam membuat sitasi dan referensi otamatis. Software ini sangat membantu mempermudah sebagian kerja penulisan. Terutama terkait aspek teknis pengutipan sumber tulisan.
Bayangkan jika kita membuat sitasi dan referensi secara manual. Biasanya sering ada kesalahan. Selain repot menghapal berbagai bentuk reference style yang beda-beda, juga kadang lupa menuliskan referensi tertentu baik di dalam teks, maupun di daftar pustaka. Belum lagi kalau mesti ganti tulisan dengan 24 referensi atau lebih dengan style tertentu (APA, misalnya) ke style lain (IEEE, misalnya) secara manual. Repot banget!
Di Monash University dulu kami pakai EndNote yang disediakan gratis oleh kampus untuk mahasiswa. Tapi, setelah saya pulang, saya tak lagi punya akses ke EndNote. Kalau tetap mau pakai, mesti beli sendiri 😃. Saya kemudian beralih ke Mendeley. Tentu, karena software ini GRATIS. 🙂
Meskipun gratis, fitur-fitur Mendeley lebih dari cukup untuk digunakan dalam membantu membuat sitasi dan referensi otomatis sesuai standar jurnal. Sekali lagi, Mendeley cukup dan recommended digunakan.
Yuk, yang mau belajar Mendeley. It helps and saves your time a lot 🙂
---
Senin lalu, berbagi dengan pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait penggunaan Mendeley. Silakan japri saya bagi yang tertarik belajar Mendeley ya.